Jurnal Pertanian Indonesia

Vol. 1 No. 2, Oktober 2020

p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2745-7060

Pertanian

 

RESPON KECAMBAH KELAPA SAWIT (ELAEIS GIUNEENSIS JACQ) TERHADAP LAMA PERENDAMAN BAKTERI ENDOFIT ISOLAT RZ2.11 ASW97

 

Dwika Karima Wardani

Universi Andalas, Indonesia

Email: [email protected]

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima 3 Agustus 2020

Diterima dalam bentuk revisi

17 Agustus 2020

Diterima dalam bentuk revisi

27 Agustus 2020

Bakteri endofit merupakan bakteri non patogen yang berasosiasi dengan tanaman, serta berperan dalam meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, merangsang pertumbuhan, dan meningkatkan kemampuan mengikat N2. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan lama perendaman terbaik dari Bakteri Endofit menggunakan Isolat Bakteri RZ2.11 ASW97 tanaman kelapa sawit pada pertumbuhan bibit kelapa sawit di Pre-Nursery. Penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Fisiologi Tanaman, Laboratorium Teknologi Benih, dan Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas, dibulan Maret sampai Juni 2017. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Langkap (RAL), terdiri dari 5 perlakuan dengan 5 ulangan yaitu Tanpa Perendaman, Perendaman 5 Menit, Perendaman 15 Menit, Perendaman 30 Menit, dan Perendaman 45 Menit. Parameter pengamatan yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah helaian daun, luas daun, diameter bonggol, panjang akar terpanjang, bobot segar bibit, bobot segar akar, bobot kering bibit, bobot kering akar, rasio tajuk akar.Data dianalisis secara statistik dengan uji F pada taraf nyata 5%. Apabila F hitung lebih besar dari F tabel 5%, maka dilanjutkan dengan uji Duncan�s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan lama perendaman bakteri endofit Isolat Bakteri RZ2.11 ASW97 hanya mempengaruhi tinggi tanaman, dan diameter bonggol. Lama perendaman yang terbaik diperoleh pada lama perendaman 5 menit.

Kata kunci:

Isolat Bakteri Endofit; Lama Perendaman; Kelapa Sawit; Pre Nursery.



Pendahuluan

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang memiliki prospek pengembangan cukup cerah (Fauzi et al., 2012). Tercatat adanya peningkatan-peningkatan luas lahan perkebunan kelapa sawit dalam se�tiap tahunnya.Luas lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama tujuh


tahun terakhir cenderung menunjukkan peningkatan, naik sekitar 3,27 sampai dengan 11,33 persen per tahun.Pada tahun 2009 lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia tercatat seluas 7.95 juta ha dengan jumlah produksi mencapai 22 juta ton, meningkat menjadi 10.46 juta ha dengan jumlah produksi 27.5 juta ton pada tahun 2013.Pada tahun 2014 diperkirakan luas lahan perkebunan kelapa sawit masih meningkat sebesar 4,69 persen menjadi 10.69 juta ha dengan jumlah produksi 29 juta ton dan di tahun 2015 meningkat sebesar 4,46 persen menjadi 11.44 juta ha dengan jumlah produksi 32 juta ton (Badan Pusat Statistik, 2015).

Sejalan dengan peningkatan luas lahan, kebutuhan dan mutu benih juga meningkat.Upaya peningkatan kebutuhan dan mutu benih dikelapa sawit pada tahap Pre-Nursery dapat dilakukan dengan pemupukan, penggunaan benih yang bermutu baik, dan inokulasi mikroba yang dapat memacu pertumbuhan seperti bakteri penghuni perakaran yang disebut rhizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).PGPR pada perakaran tanaman dapat dikelompokkan berdasarkan tempat kolonisasinya, yaitu berada dalam komplek rizosfer, di permukaan akar (rizoplan) dan di dalam jaringan akar (endofit) (Soesanto, 2008). Salah satu upaya dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan penggunaan bakteri endofit.

Isolat bakteri endofit RZ2.11 ASW97 yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil eksplorasi bakteri endofit dari sampel tanah yang dilakukan pada areal kebun kelapa sawit PT.Kresna Duta Agroindo Mill � Langling, Bangko, Jambi secara acak pada tanaman kelapa sawit yang sehat.Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil tanah dan akar pohon sawit yang terlihat sehat.

Peran bakteri endofit diketahui cukup signifikan dalam meningkatkan produksi tanaman tebu (Dong et al., 1995), dan padi (Govindarajan et al., 2008).Salah satu penyebab peningkatan pertumbuhan dan produksi tanaman adalah ketersediaan hara, produksi hormon yang dihasilkan oleh bakteri endofit (Rajan dan Radhakrishna, 2013), proses fiksasi hara yang dilakukan oleh bakteri endofit (Reis et al., 1994), dan pelarutan hara di dalam tanah (Seshadri et al., 2000).Peningkatan serapan hara tersebut juga dapat diakibatkan karena bakteri endofit yang digunakan mampu memproduksi hormon giberelin.Hormon tersebut mampu memacu serapan hara N, P, dan K.Hormon giberelin mengatur pertumbuhan tanaman melalui peningkatan divisi dan pemanjangan sel (Eid dan Laila, 2006).Harni (2010) juga melaporkan bahwa 26 isolat bakteri endofit yang diisolasi dari tanaman nilam mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman nilam (berat tajuk tanaman dan berat akar).

Pada tanaman mangrove, bakteri endofit selain berperan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman juga berperan sebagai agen biokontrol (Utami, 2011).Panjaitan (2014) menyebutkan bahwa pemberian kombinasi kultur bakteri diazotrof endofit dengan 50% dosis N dari standar pemupukan berpengaruh secara signifikan dalam peningkatan pertumbuhan kelapa sawit, yaitu pada diameter bonggol, tinggi tanaman, jumlah pelepah daun, dan bobot kering tanaman.Hal yang sama juga diharapkan pada benih tanaman kelapa sawit dengan memanfaatkan bakteri endofit menggunakan isolat yang diisolasi dari tanaman sawit.

Menurut Munif et al. (2013), ada tiga aplikasi bakteri endofit yang dapat dilakukan yaitu, seed treatment (perendaman benih), soil drenching (penyiraman pada tanah) dan root dipping (pencelupan akar).Perendaman benih merupakan salah satu teknik aplikasi yang biasa dilakukan dalam menggunakan bakteri endofit.Perendaman benih dengan suspensi bakteri endofit memungkinkan bakteri masuk kedalam benih melalui lubang alami.Hasil penelitian Habazar et al (2012) yang mengintroduksi bakteri endofit pada tanaman kedelai varietas Anjasmoro dengan perendaman benih selama 10 menit menunjukkan daya berkecambah benih kedelai yang diinokulasi dari 9 isolat bakteri endofit terdapat 6 isolat bakteri endofit yang meningkat menjadi 100 % dengan efektivitas 11.11% dibandingkan dengan kontrol. Pengujian perendaman benih menggunakan bakteri endofit selama 30 menit juga dilakukan oleh Munif et al. (2013) menunjukkan bahwa beberapa bakteri endofit memiliki hasil yang tidak berbeda nyata dengan kontrol.NamunWibowo (2013) telah melakukan aplikasi bakteri endofit dengan teknik perendaman benih selama 120 menit terhadap Meloidogyne spp. pada tanaman tomat.Hasilnya adalah dua isolat bakteri mampu menekan populasi nematoda sampai 67.65%.Oleh karena itu berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis telah melakukan penelitian Respon Benih Kelapa Sawit Terhadap Lama Perendaman Bakteri Endofit Menggunakan Isolat Rz2.11 ASW97

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan lama perendaman terbaik dari bakteri endofit menggunakan isolat bakteri RZ2.11 ASW97 tanaman kelapa sawit pada pertumbuhan bibit kelapa sawit di Pre-Nursery.

 

 

Metode Penelitian

Percobaan ini telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2017 di Laboratorium Mikrobiologi (Pembuatan Isolat Bakteri), Laboratorium Fisiologi Tanaman dan Laboratorium Teknologi Benih (Mengukur Bobot Basah dan Kering Tanaman), dan Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas.

Bahan yang digunakan adalah kecambah Varietas kelapa sawit D x P TN yang merupakan kombinasi dari persilangan Dura Deli dari populasi Johor Labis dan Pisifera Avros yang diseleksi dengan metode Modified Recurrent Selection oleh Socfin Malaysia dan PT. Bakti Tani Nusantara, isoalat bakteri endofit RZ2.11 ASW97 dari areal kebun kelapa sawit PT. Kresna Duta Agroindo Mill � Langling Jambi, kantong plastik volume 1 kg, kertas stensil, alkohol 70%, medium Nutrient Agar (NA), medium Nutrient Broth (NB), KOH 3%, aquades, alumunium foil, kertas label, polybag volume 2 kg dengan ukuran 22x14 cm, tebal 0,07 mm, plastik bening, air kelapa, dan tanah steril.

Alat yang digunakan adalah pisau, petridish kaca, gelas piala, gelas ukur, hot plate, testube, mikro tube, gelas erlenmeyer, jarum ose, tabung reaksi, rak tabung reaksi, timbangan digital, pipet tetes, lampu bunsen, jarum suntik, laminar airflow cabinet, autoclave, oven, batang pengaduk, shaker, jangka sorong, mistar, meteran, Leaf Area Meter, hand sprayer, cangkul, timbangan analitik, vortex, kamera digital, stopwatch dan alat tulis.

Rancangan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 taraf dan diulang sebanyak 5 kali, dengan demikian akan diperoleh 25 satuan percobaan.Pada satu satuan percobaan terdapat 3 tanaman, sehingga diperoleh 75 tanaman.

Tanpa Rhizobakteri������������������ = A

Perendaman selama 5 menit����� = B

Perendaman selama 15 menit���� = C

Perendaman selama 30 menit���� = D

Perendaman selama 45 menit���� = E

Pelaksanaan penelitian ini dimulai dari perbanyakan isolate rhizobakteri indeginus, persiapan bahan tanam, persiapan media tanam, introduksi Rhizobakteri dan penanaman, pelabelan dan pemasangan tiang standar, pemeliharaan tanaman.Adapun variabel pengamatan meliputi: tinggi tanaman, jumlah helaian daun, luas daun, diameter bonggol, panjang akar terpanjang, bobot segar bibit, bobot segar akar, bobot kering bibit, bobot kering akar, ratio tajuk akar.

 

Hasil dan Pembahasan

A.  Gambaran Umum

Percobaan ini dilakukan pada bulan pada bulan Maret sampai Juni 2017 di Laboratorium Mikrobiologi (Pembuatan Isolat Bakteri), Laboratorium Fisiologi Tanaman dan Laboratorium Teknologi Benih (Mengukur Bobot Basah dan Kering Tanaman), dan Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas. kecambah Varietas kelapa sawit D x P TN 1 (Lampiran 2) yang merupakan kombinasi dari persilangan Dura Deli dari populasi Johor Labis dan Pisifera Avros yang diseleksi dengan metode Modified Recurrent Selection oleh Socfin Malaysia dan PT. Bakti Tani Nusantara, dengan isolat bakteri endofit RZ2.11 ASW97 dari areal kebun kelapa sawit PT. Kresna Duta Agroindo Mill�Langling Jambi

B.  Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan yang mudah diamati sebagai indikator pertumbuhan. Pada Tabel 1 memperlihatkan bahwa rata-rata tinggi tanaman berkisar antara 22.78 cm � 25.90 cm.Ini menunjukkan bahwa kemampuan lama perendaman bakteri endofit isolat RZ2.11 ASW97 pada bibit tanaman kelapa sawit mampu berperan dalam pertambahan tinggi bibit. Data rata-rata tinggi tanaman tomat dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.Tinggi Bibit Tanaman kelapa Sawit Umur 16 MST pada Beberapa Lama Peredaman Bakteri Endofit

Perlakuan

Rata- Rata (cm)

Tanpa peredaman

22,78

a

Peredaman 45 menit

22,92

a

Peredaman 30 menit

23,23

a

Peredaman 15 menit

24,41

ab

Peredaman5 menit

25.90

b

KK =5,45 %

 

Dari hasil tersebut menunjukkantinggi bibit kelapa sawit pada perendaman bakteri endofit selama 5 menit cenderung lebih tinggi yaitu 25.90 cm dibandingkan dengan tanpa perendaman yaitu 22.78 cm.Diduga bahwa bakteri endofit isolat RZ2.11 ASW97 mampu sebagai penambat nitrogen (N2) pada tanaman kelapa sawit yang berperan dalam peningkatan tinggi bibit tanaman kelapa sawit.

 

 

Pemberian bakteri endofit menggunakan isolat RZ2.11 ASW97 dengan lama perendaman memberikan pengaruh yang berbeda nyata.Gambar 1 terlihat bahwa pada umur 10 - 16 MST pertambahan bibit tanaman kelapa sawit yang diintroduksi bakteri endofit menggunakan isolat RZ2.11 ASW97 denganlama perendaman 5 menit mencapai tinggi 25.90 cm dan menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan yang lainnya, sedangkan tinggi bibit yang cenderung lebih rendah terdapat pada bibit tanaman kelapa sawit tanpa perendaman bakteri endofit menggunakan isolat RZ2.11 ASW97 yaitu 22.78 cm.

Berdasarkanpenelitian Munif et. al. (2015) menunjukkan bahwa perlakuan perendaman benih tomat selama 30 menit dengan isolat bakteri endofit asal tanaman kehutanan lebih berpengaruh terhadap tinggi, dan bobot basah tanaman tomat dibandingkan dengan perendaman selam 120 menit. Lebih dari separuh isolat bakteri endofit dari 10 perlakuan dapat meningkatkan tinggi tanaman tomat pada perlakuan perendaman benih selama 30 menit dibandingkan dengan kontrol dan hanya 1 isolat yang berpegaruh terhadap bobot tanaman.

C.      Jumlah Helaian Daun (helai)

Rata - rata jumlah helaian daun tanpa perendaman bakteri endofit menggunakan isolat RZ2.11 ASW97 pada bibit tanaman kelapa sawit yaituberkisar 4.00 � 4.33 helai.Rata � rata jumlah helaian daunmenunjukkan pengaruh yang sama.Bakteri endofit di dalam jaringan tanaman dapat berupa endofit asli (indigenous endophytes) dan endofit introduksi (introduced endophytes).Sulit memastikan jumlah populasi bakteri didalam jaringan tanaman karena keberadaannya sangat terdistribusi dan menyebar ke seluruh bagian tanaman.Populasi bakteri endofit dalam tanaman dipengaruhi oleh tanaman, termasuk genotipe tanaman, umur tanaman dan jenis tanaman, juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik biotik dan abiotik (Hallmann et al., 1997).

 

Terlihat pada Gambar 2 bahwa pada 6-16 MST, peningkatan jumlah helai daun terus terjadi.�� Daun dibentuk di dekat titik tumbuh. Setiap bulan, biasanya akan tumbuh 1-2 lembar daun (Sastrosayono, 2003).Turner dan Gillbanks (2003) menjelaskan bahwa kebutuhan nutrisi bibit kelapa sawit setelah periode penggunaan endosperm sebagian besar berasal dari hara media tanah yang digunakan dan hara pupuk yang diaplikasikan. Oleh karena itu, perbedaan pertumbuhan bibit akibat perlakuan akan mulai terlihat setelah periode 7 MST.Pertambahan helaian daun berkaitan dengan fase-fase pertumbuhan tanaman.Fase vegetatif terutama terjadi pada perkembangan akar, daun dan batang baru.Fase ini berhubungan dengan 3 proses penting : (1) pembelahan sel, (2) pemanjangan sel, dan (3) tahap awal dari diferensiasi sel (Suketi, 2010).

D.  Luas Daun (cm2)

Pemberian lama perendaman bakteri endofit menggunakanisolat RZ2.11 ASW97 menunjukkan rata-rata luas daun bibit tanaman kelapa sawit berkisar antara 34.78cm�2 - 40.78 cm�2.Hal ini diduga bahwa bakteri endofit akan bekerja dengan efektif pada lama perendaman yang sesuai, yaitu dalam penelitian ini pada rentang waktu 5 sampai 30 menit.

 

Beberapa jenis bakteri endofit diketahui berperan penting dalam menunjang vitalitas tanaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri endofit berfungsi sebagai penambat nitrogen, bentuk interaksi endofit merupakan prototype interaksi bakteri dengan tanaman yang perlu dipelajari karena terbentuk kondisi yang lebih sesuai untuk transfer nutrien di antara keduanya (Lee et al., 2000).Aplikasi nitrogen pada bibit kelapa sawit nyata meningkatkan indeks luas daun yang secara langsung meningkatkan net asimilasi dan produksi biomassa. Sedangkan defisiensi nitrogen (N) menyebabkan pembentukan dan fungsi kloroplas menjadi terganggu, hidrolisis protein untuk pembentukan asam amino serta mengakibatkan pertumbuhan tanaman yang kerdil (Fairhurst dan Hardter, 2003). Berdasarkan penelitian Nopangga (2016) bahwa bakteri endofit menggunakan isolat E6 SW 1997 dengan lama perendaman 15 menit menunjukkan luas tanaman yaitu 41.40 cm2 dibandingkan dengan tanpa perendaman yaitu 20.05 cm2.

E.  Diameter Bonggol

��������� Pemberian lama perendaman bakteri endofit menggunakanisolat RZ2.11 ASW97 menunjukkan rata-rata diameter bonggol tanaman kelapa sawit berkisar antara 0.62cm� � 0.90 cm.Dari hasil tersebut menunjukkan rata-rata diameter bonggol kelapa sawit pada perendaman bakteri endofit selama 5 menit cenderung lebih tinggi yaitu 0.90 cm dibandingkan dengan tanpa perendaman yaitu 0.62 cm.

 

 

Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa lama perendaman bakteri endofit menggunakan isolat RZ2.11 ASW97 mampu memacu pertambahan diameter bonggol pada bibit tanaman sawit.Terlihat adanya perbedaan grafik pada minggu ke 6 setelah tanam sampai minggu ke 12 setelah tanam.Lama perendaman 5 menit, 15 menit dan 30 menit yang cenderung lebih tinggi dibandingkan tanpa perendaman dan perendaman 45 menit yang relatif lebih rendah.Hal ini sejalan dengan penelitian Panjaitan (2014) yang menyatakan bahwa isolat bakteri endofit berpengaruh secara signifikan meningkatkan pertumbuhan diameter bonggol, tinggi tanaman, jumlah pelepah daun dan bobot kering tanaman serta terhadap kandungan hara N, P dan K jaringan tanaman pada bibit kelapa sawit.Bakteri endofit dapat merangsang

pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil melalui produksi fitohormon dan penyedia hara, sebagai penetral kontaminan tanah sehingga meningkatkan fitoremidiasi, dan agensia pengendali hayati (Melliawati et al., 2006).

 

F.   Panjang Akar Terpanjang (cm)

Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa perendaman bakteri endofit menggunakan isolat RZ2.11 ASW97 memberikan pengaruh yang sama terhadap panjang akar terpanjang dengan rata-rata berkisar 26.30 � 40.75 cm.

G. Bobot Segar Bibit (g)

Pada lama perendaman bakteri endofit menggunakan isolat RZ2.11 ASW97 menunjukkan bahwa rata-rata bobot segar bibit terberat pada lama perendaman 5 menit yaitu mencapai 8.47 g, dilanjutkan dengan peredaman selama 30 menit, 15 menit, tanpa perendaman dan perendaman 45 menit yaitu 7.67 g, 6.68 g, 5.33 g, dan 4.35 g.Rata-rata bobot segar tajuk tanaman kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel6.

H.  Bobot Kering Bibit (g)

Pada Tabel 7 menunjukkan bahwa perendaman bakteri endofit menggunakan isolat RZ2.11 ASW97 memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap bobot kering bibit.Rata-rata lama perendaman bakteri endofit pada bibit kelapa sawit berkisar antara 1.25 � 2.37 g.Masing-masing adalah 2.37 g, 2.08 g, 1.81 g, 144 g dan 1.25 g. Berat kering tanaman sering digunakan untuk menganalisis

pertumbuhan tanaman. Berat kering tanaman merupakan hasil penimbunan hasil bersih asimilasi CO2 (Salisbury dan Ross, 1995).

 

I.     Bobot Segar Akar (cm)

Rata � rata bobot segar akar tanaman kelapa sawit berkisar antara 1.29 g � 2.48 g.Rata-rata bobot segar akar tanaman kelapa sawit dengan lama perendaman bakteri endofit menggunakan isolat RZ2.11 ASW97 dapat dilihat pada Tabel 8.

J.    Bobot Kering Akar (cm)

Pada Tabel 9 terlihat bahwa lama perendaman menggunakan bakteri endofit menghasilkan bobot kering akar tanaman kelapa sawit dengan rata-rata antara 0.58 � 1.18 g.

Bakteri endofit biasanya masuk pertama kali melalui perakaran sekunder dengan mengeluarkan enzim selulase (agarwal dan shende, 1987), atau bagian atas tanaman seperti batang, bunga, radikel kecambah, stomata ataupun kotiledon dan daun yang sobek (Kobayashi dan Palumbo, 2000).

 

K. Ratio Tajuk Akar

Dari Tabel 10 menunjukkan rata-rata ratio tajuk akar yang hampir sama yaitu berkisar antara 3.32 � 5.84.Rata-rata ratio tajuk akar tanaman kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 10.

Tinggi nilai rasio tajuk akar dipengaruhi oleh kemampuan tanaman dalam penyerapan unsur hara yang diduga isolat bakteri endofit telah mampu menyediakan nutrisi pada pada bibit tanaman kelapa sawit.Menurut Gardner,et al., (1991) nilai rasio tajuk akar yang besar (>1) menunjukkan bahwa tajuk yang dihasilkan besar

 

Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perlakuan lama perendaman bakteri endofit menggunakan Isolat RZ2.11 ASW97 mempengaruhitinggi tanaman dan diameter bonggol dengan lama peredaman terbaik diperoleh pada lama perendaman 5 menit � 15 menit biladibandingkan dengan tanpa perendaman dan lama perendaman lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

Bibliografi

 

Agarwal S. and S. T. Shande. 1987. Tetrazolium reducing microorganisms Inside the Root of Brassica Species. Current Scient 56 : 187-188.

Ali, M., F. Puspita, I. Alhadda. 2009. Uji Indikasi Beberapa Isolat Bacillus sp. Lokal Riau Terhadap Jamur Ganoderma boninense Penyebab Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit di Pembibitan Awal.

Aly, AH., A. Debbab, P. Proksch. 2011. Fungal endophytes: unique plant inhabitants with great promises. Appl Microbiol Biotechnology. 90: 1829 � 1845.

Asghar, H., Z. Zahir, M. Arshad,A. Khaliq. 2002. Relationship between in vitro production of auxins by rhizobacteria and their growthpromoting activities in Brassica juncea L. Biol Fertil Soils 35:231-237

Bacon C.W. and D.M. Hinton. 2002. Endophytic and Biological Control Potential of Bacillus mojavensis and related species. Biological Control. 23:274-284.

BPS. Badan Pusat Stasistik, 2015. Komoditas Indonesia. Jakarta.

Buana, L., D. Siahaan, dan S. Adiputra. 2003. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit. Medan. PusatPenelitian Kelapa Sawit.

Chairani, M. 1991. Faktor penentu viabilitas benih kelapa sawit. bulletin PPks 2 (2) : 71-76

Corley RHV. 1976. Oil Palm Research. Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam, The Netherlands : 25-30.

Curl EA, Truelove B. 1986. The Rhizosphere. Springer-Verlag. Tokyo.

Dewi, Intan Ratna. 2007. Fiksasi N Biologis pada Ekosistem Tropis. http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/rhizobia_mklh_1 .pdf. Akses 1 Mei 2012.

Dong, Z., M. Heydrich, K. Bernard, and M.E. Mccully. 1995. Further evidence that the N2-fixing endophytic bacterium from the intercellular spaces of sugarcane stems is Acetobacter diazotrophicus. Appl. and Env. Microbiol. 61(5): 1843-1846.

Eid, R.A. and B.H.A. Laila. 2006. Response of croton plants to gibbberellic acid, benzyl adenine and ascorbic acid application. World J. Agr.Sci. 2(2): 174-179.

Fairhurst T, Hardter R. 2003. Oil Palm, Management for Large and Sustainable Yields, Potash & Phosphate Institute of Canada : 196-198.

Fauzi, Y., Y. E Widyastuti., I. Satyawibawa, dan R. H. Paeru.2012. Kelapa Sawit . Penebar Swadaya.

Gardner, R.B., Pearce, R.B. dan Mitchell, R.L.1991. FisiologiTanaman Budaya.UniversitasIndonesia, Jakarta.

Govindarajan, M., J. Balandreau, S.W. Kwon, H.Y. Weon, and C. Lakshminarasimhan. 2008. Effect of the inoculation of Burkhkolderia vietnamensis and related endophytic diazotrophic bacteria on grain yield of rice. Microb. Ecol. 55(1): 21-27.

Habazar, T., R. Zurai, Y. Yulmira, T. Jumsu, D. Afrika. 2012. Penapisan Bakteri Endofit Akar Kedelai Secara in Planta untuk Mengendalikan Penyakit Pustul Bakteri. Jurnal Fitologi Indonesia 8 (4). Hlm 103-109

Hallmann J. 1999. Plant interactions with endophytic bacteria. http://www.bspp.org.uk/ archives/bspp1999/session3.php. [diakses 21 Juli 2011].

Hallmann, J., Aq. Hallmann, Wf. Mahaffee, Kloepper. 1997. Bacterial endophytes in agricultural crops. Can. J. Microbiol. 43:895-914.

Harni, Rita., Munif, Abdul., Supramana., Mustika, Ika. 2007. Potensi Bakteri Endofit Pengendali Nematoda PelukaAkar (Pratylenchus Brachyurus) Pada Nilam. HAYATI Journal of Bioscience. Vol. 14, No. 1

Hartley, C W. S. 1977. The Preparation, Stotageng Germination Of Seed. P.311- 328. In C. W. S. Hartley And R. H. V. Corley (Eds). The Oil Palm (ElaeisGuineensis). Longman. London And New Yorkherdian (1994) Jakarta. 236 hlm.

Hidayati U, IA. Chaniago, A. Munif, Siswanto, DA. Santosa. 2014. Potency of plant growth promoting endophytic bacteria from rubber plants (Hevea brasiliensis Mill. Arg.) J Agronomy. 13(3):147�152. DOI: http:// dx.doi.org/10.3923/ja.2014.147.152.

Kadarwati, S. 2006. Karakterisasi Biosurfaktan yang Dihasilkan Bakteri Providancia rettgeri dan Bacillus subtilis Dari Reservoir Minyak Di Indonesia. Lembaran Publikasi Lemigas 42 (3): 18-26.

Kobayashi, D.Y. and Palumbo, J.D.2000. Bacterial Endophytes and their Effect on Plantand Uses in Agriculture. Bacon, C.W. and White, J.F. Jr., Eds., Marcel D ekker, New York.

Kuklinsky-Sobral, J., WL. Araujo, R. Mendes, IO. Geraldi, AA. Pizzirani- Kleiner, and JL. Azevedo. 2004. Isolation and characterization of soybean-associated bacteria and their potential for plant growth promotion. Environ Microbiol. 6:1244-1251.

Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Lee, S., A. Reth, D. Meletzus, M. Sevilla, C. Kennedy. 2000. Characterization of a major cluster of nif, fix and associated genes in a sugarcane endophyte, Acetobacter diazotrophicus. Journal Bacteriology 182(24): 7088-7091.

Lubis AU. 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guinensis Jacq) di Indonesia. Medan (ID): Pusat Penelitian Perkebunan Marihat Bandar Kuala.

Lubis, A. U. 1992. Kelapa sawit di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat, Bandar Kuala. Sumatera Utara.Sawit (Elaesis guinensis Jacq). Balai Penelitian Marihat Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008

Magnani G. S., C. M. Didonet, L. M. Cruz, C.F. Picheth, F. O. Pedrosa and E. M. Souza. 2010. Diversity of endophytic bacteria in Brazilian sugarcane. Genetics and Molecular Research 9: 250-258